Pekerjaan Utamaku adalah Sholat

Pekerjaan Utamaku adalah Sholat

“Apa yang kamu pelajari di sini?” tanya sahabatku ketika mengunjungiku saat aku mengikuti pendidikan strategi perang.
“Banyaklah,.. mulai dari strategi perang ideologi, perang politik, perang ekonomi, perang sosial, sampai dengan perang bersenjata, yang belum cuma perang batin”, jawabku.
Dia tersenyum sambil tertawa karena mendengar jawabanku yang agak aneh, “bukankah kamu selalu kalah dalam perang itu?” tanyanya lagi setelah aku bercerita selalu kalah dalam perang batin.

“Apa sih strategi yang paling ampuh memenangkan perang?” tanyanya.
“Dalam pelajaranku, hanya dua strategi yang terbaik, pertama; lemahkan musuh dan yang kedua; perkuat diri sendiri, perang pasti kita menangkan”, aku menjelaskan teori tersebut yang aku kutip dari salah satu teori Sun Tzu.

“Kalau dalam perang batin, apa bisa kamu lemahkan musuh?” dia kembali bertanya.
“Kalau Perang Batin kan musuhnya diri kita sendiri? Kalau kita lemahkan musuh berarti kita lemahkan diri sendiri juga”, aku berpendapat tentang definisi perang batin.

Dalam diskusi itu kami sepakati perang batin itu adalah bagaimana kita menang dalam menentukan pilihan dihadapkan pada kenyataan dan keinginan. Dalam hidupku dominan keinginan selalu berbeda dengan kenyataan.
Sebagai manusia normal, aku ingin hatinya senang, pikiran tenang dan perut kenyang. Kenyataannya hati sering galau karena situasi dan lingkungan hidup dikelilingi oleh konflik. Memang ini bagian dari resiko menjadi prajurit yang selalu bertugas di tempat yang tidak aman.

Pikiran sering berkecamuk karena terlalu banyak pertimbangan yang menguras pikiran. Salah dalam pertimbangan korban akan berjatuhan. Makanya ada doktrin prajurit dilarang berlaku salah.
Sedangkan kondisi perut, tidak jarang harus menahan lapar. Hampir semua tugas karena perkembangan situasi sehingga minim dalam perencanaan dan persiapan. Tugas membutuhkan kecepatan guna mengurangi resiko korban. Inilah curhatan prajurit yang sering aku dengarkan, tetapi karena terlatih kata-kata ini jarang terungkap.

“Yang jelas, kami harus mencintai penderitaan, karena penderitaan sahabat sejati selama kami berdinas dan dengan demikian kami akan lebih bersyukur kepada Tuhan”, jawabku kepadanya.

“Sebenarnya pekerjaan utamamu apa sih?” tanyanya kembali setelah aku menerangkan dinamika hidupku selama berdinas sebagai seorang prajurit.
“Membunuh Musuh”, jawabku singkat. Dalam benakku tentara dilatih dan dididik untuk membunuh musuh tetapi bukan karena benci melainkan karena demi cintanya kepada rakyat dan negara yang ia cintai.

“Emang pekerjaanmu apa?” tanyaku balik.
“Pekerjaan utamaku adalah sholat, yang lain hanya pekerjaan sampingan untuk mengisi waktu luang sembari menanti tibanya waktu sholat”, spontan aku tertegun. Jawabnnya yang baru pertama aku dengar karena setahuku dia bukanlah ahli ibadah.

Dia bercerita tentang hidupnya. Masa lalunya yang kelam dan sering menginap di hotel prodeo mewarnai hidupnya yang merugi. Sampai akhirnya ia sadar dan bertobat sehingga untuk melengkapi warna hidupnya ia bermunajat untuk siar agama.

“Coba kamu hitung, kalau umur kita sampai 80 tahun, 15 tahun pertama belum baliq, selama 65 tahun amalan kita dihitung”, dia menjelaskan teorinya tentang sebenarnya kita merugi. Dia mengajakku untuk sama-sama berhitung, jika setiap sholat hanya butuh waktu sekitar 10 menit dalam 24 jam hanya 1 jam kita dinilai, sisanya untuk apa? Jika diakumulasi selama 65 tahun, tidak sampai setengah dari hidup untuk sholat makanya kegiatan lain harus bernilai ibadah.

Ia menghitung waktu mas silamnya yang kelam, secara matematika ia sangat merugi karenanya ia mengajakku untuk taat mendirikan sholat. Hidupnya dan hidupku tidak jauh beda, makanya akupun bersiar kepada semua untuk taat dalam ibadah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *