Kucing Buta

Kucing Buta

Matahari sungguh terik. Aku kini tengah berjalan menggunakan keempat kakiku. Aku adalah seekor kucing jalanan, namaku adalah Oren.

Perutku terasa amat perih menahan lapar. Kulalui beberapa jejak manusia, mengharap ada yang mau memberiku sisa-susa makanan. Namun malah sebaliknya, manusia manusia itu malah menyakiti. Beberapa anak manusia ada juga yang mempermainkanku, dengan geram akupun mengeluarkan kukuku dan mencakar kulit mereka. Seketika dari kulit mereka bercucuran cairan merah nan kental.

Aku kira manusia memiliki hati nurani, namun ternyata mereka lebih seperti hewan. Sebenar aku juga ingin memiliki tuan yang baik hati seperti kucing lainnya. Bahkan kucing lain tidak ada yang mau berteman denganku, mungkin karena aku kucing yang jorok dan bau.

Mengapa Tuhan tidak adil? aku sungguh muak dengan tingkah para manusia, yang lalai akan dunianya saja, apakah mereka tidak ingat mati?

Awan di langit mulai memggumpal. Kilatan putih itu mulai menyambar secara bergantian di ambang cakrawala, bagaikan cemeti listrik yang mencambuk alam. Perlahan namun pasti, buliran-buliran gerimis itu tak lama menjelama menjadi hujan yang sangat deras.

Hawa terasa dingin, menusuk hingga ketulang. Aku sedang berteduh di sebuah emperan toko, huh… andai aku memiliki tempat tinggal.

Hujan telah reda, aku kembali menjejakkan kakiku di tanah bumi yang telah basah. Aku memandangi seekor kucing jantan berwarna hitam itu tengah bermain sendiri. Mungkin ia kucing baik, akupun berlari menghampirinya. Jarakku dengan kucing tersebut sudah sangat dekat, hening beberapa saat.

Kemudian aku menyapanya, “Hai sobat, siapa namamu?”
Kucing tersebut membalikkan badannya dan dari bibirnya terukir sebuah senyuman. Alangkah terkejutnya aku, ternyata kucing tersebut buta. Namun ia tetap bersyukur dan tak mengeluh. Sementara aku yang memiliki fisik yang sempurna, hanya mengeluh dan mengeluh sepanjang hari. Aku sungguh malu pada Tuhan dan kepadanya.

“Namaku Brie,” jawab kucing tersebut.
“Apakah kau mau menjadi temanku?” tanyaku.
“Tentu saja kawan,” jawabnya.

Akhirnya aku dan Brie menjadi sahabat. Kemana-mana kami selalu bersama, walau suka dan duka kami tetap bersama.

Aku menjejaki kakiku menuju tempat kediamanku dan Brie. Aku kini sedang mengapit seekor ikan di mulutku.

Beberapa saat kemudian….
Aku melihat Brie sedang berada di tengah jalan, dan sebuah mobil siap menghantam tubuhnya. Aku segera berlari kearah Brie, untuk menyelamatkannya.

Tapin naas, hantaman dari mobil itu sugguh tak dapat dihindari lagi. Cairan merah nan kental membasahi tubuhku dan Brie. Akhirnya nyawa kami menghilang dari raga kami, mungkin inilah takdir dari Tuhan, yang tak dapat ditebak oleh makhluk ciptaan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *